Sabtu, 11 Mei 2019


Model Pembelajaran Problem Posing
A. Pengertian Model Pembelajaran Problem Posing


Problem Posing terdiri dari dua kata yaitu “problem” yang artinya masalah dan “posing” berasal dari kata “pose” artinya membentuk atau mengajukan Problem Posing. Model pembelajara  Problem Posing mempunyai bebrapa arti, yaitu pertama perumusan soal dengan bahasa yang baku / standar atau perumusan kembali soal yang ada dengan beberapa perubahan agar sederhana dan dapat dikuasai, kedua, perumusan masalah yang berkaitan dengan syarat – syarat pada soal yang dipecahkan dalam rangka mencari alternatif soal yang relevan, dan ketiga, perumusan soal dari suatu situasi yang tersedia baik yang dilakukan sebelum, ketika, atau setelah mengerjakan soal.
Menurut As’ari (2000 : 5) Model pembelajaran Problem Posing dengan pembentukan soal atau merumuskan soal atau menyusun soal.
Selanjutnya Amri (2013 : 13) menyatakan bahwa pada prinsipnya, model pembelajaran problem posing mewajibkan siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal dengan mandiri.


B. Langkah – Langkah Model Pembelajaran Problem Posing

Menurut Suyitno (2004 ; 31 – 32) menjelaskan penerapan model pembelajaran Problem Posing adalah sebagai berikut :
1. Guru menjelaskan materi pelajaran kepada siswa. Penggunaan alat peraga untuk menjelaskan              konsep sangat disarankan,
2. Guru memberikan latihan soal,
3. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal yang menantang, dan siswa yang bersangkutan              harus  mampu menyelesaikannya. Tugas ini dapat pula dilakukan secara kelompok,
4. Pada pertemuan berikutnya, secara acak, guru menyuruh siswa untuk menyajikan soal temuannya      di depan kelas. Dalam hal ini, guru dapat menentukan siswa secara selektif berdasarkan bobot soal      yang diajukan oleh siswa,
5. Guru memberikan tugas rumah secara individual.

C. Kelebihan Model Pembelajaran Problem Posing
1. Mendidik murid untuk percaya akan diri sendiri,
2. Mendidik murid untuk berfikir secara kritis,
3. Siswa dapat aktif dalam pembelajaran,
4. Siswa belajar menganalisis suatu masalah.

D. Kekurangan Model Pembelajaran Problem Posing
1. Murid tidak semuanya akan bertanya,
2. Model pembelajaran ini tidak bisa digunakan dalam kelas rendah,
3. Membutuhkan waktu yang cukup lama.

Minggu, 05 Mei 2019

Model Pembelajaran  Berbasis Masalah atau Problem Based Learning
1. Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem Based Learning
Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) atau Problem Based Learning (PBL) adalah metode pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, dan memperoleh pengetahuan (Duch, 1995).  Finkle dan Torp (1995) menyatakan bahwa PBM merupakan pengembangan kurikulum dan sistem pengajaran yang mengembangkan secara simultan strategi pemecahan masalah dan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan dengan menempatkan para peserta didik dalam peran aktif sebagai pemecah permasalahan sehari-hari yang tidak terstruktur dengan baik. Dua definisi di atas mengandung arti bahwa PBL atau PBM merupakan setiap suasana pembelajaran yang diarahkan oleh suatu permasalahan sehari-hari.PBL adalah metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru (Suradijono, 2004).
Berdasarkan pendapat pakar-pakar tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Problem Based Learning (PBL) merupakan metode pembelajaran yang mendorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata. Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran.
Sehingga dapat diartikan bahwa PBL adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata lalu dari masalah ini siswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya (prior knowledge) sehingga dari prior knowledge ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru. Diskusi dengan menggunakan kelompok kecil merupakan poin utama dalam penerapanPBL.

2. Langkah - langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem Based Learning
a. Orientasi siswaa pada masalah
   Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang dibutuhkan, mengajukan                 fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk              terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih,
b. Mengorganisasikan siswa untuk belajar
   Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang                        berhubungan dengan masalah tersebut,
c. Membimbing pemyelidikan individual maupun kelompok
   
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen,         untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya,
d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya maupun hasil pemecahan masalahnya
   Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan,          video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya,
e. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
   Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan        proses-proses yang mereka gunakan.

3. Kelebihan Model Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem Based Learning
a. Dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan        baru bagi siswa,
b. Dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa,
c. Dapat membantu siswa bagaimana menyalurkan pengetahuan mereka untuk memahami sebuah          masalah,
d. Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai oleh siswa,
e. Dapat memberikan kesempatan siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki           dalam dunia nyata,
f. Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir lebih kritis dan mengembangkan                 kemampuan mereka untuk menysuaikan dengan pengetahuan.

4. Kekurangan Model Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem Based Learning
a. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari,      maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari,
b. Keberhasilan model pembelajaran PBL ini membutuhkan cukup waktu untuk persiapan dan                pelaksanaannya,
c. Mana kala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang         dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba

Minggu, 28 April 2019


Model Pembelajaran Problem Solving
1. Pengertian Model Pembelajaran Problem Solving
Model pembelajaran problem solving adalah suatu cara mengajar yang dilakukan dengan cara melatih para murid menghadapi berbagai masalah untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama – sama (Alipandie, 1984 : 105). Sedangkan menurut Sudirman (1987 : 146) metode problem solving adalah cara penyajian bahan pelaajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha untuk mencari pemecahan atau jawaban oleh siswa.
Menurut Djamarah (2006 : 92) metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode kedalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih peserta didik menghadapi berbaagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama – sama. Menurut Sanjaya (2006 : 214) menyatakan, pada metode pemecahan masalah (problem solving), materi pelajaran tidak terbatas pada buku saja, tetapi bersumber dari persitiwa – peristiwa tertentu sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

2. Tujuan Model Pembelajaran Problem Solving
a. Agar siswa dapat menyelesaikan informasi yang relevan, kemudian menganalisisnya dan meneliti      kembali hasilnya,
b. Agar siswa mempunyai rasa kepuasaan intelektual yang akan timbul dari dalam diri, sebagai                hadiah intrinsik bagi siswa,
c. Potensi intelektual siswa meningkat,
d. Agar siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui proses penemuan.

3. Langkah – Langkah Model Pembelajaran Problem Solving
Langkah – langkah model pembelajaran problem solving (Dewey dalam W. Gulo, 2002 : 115).
a. Merumuskan Masalah
    Siswa harus mengetahui dan merumuskan masalah secara jelas, pemecahan masalah ini harus              tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemempuannya,
b. Menelaah Masalah
    Siswa menggunakan pengetahuan untuk memperinci, menganalisis masalah dari berbagai sudut,
c. Merumuskan Hipotesis
   Siswa harus menggunakan imajinasinya dan menghayati ruang lingkup, sebab akibat, dan alternatif     penyelesaian,
d. Menggumpulkan dan Mengelompokkan Data sebagai Bahan Pembuktian Hipotesis
    Kecekapan siswa untuk mencari dan menyusun data, menyajikan data dalam bentuk diagram,              gambar atau tabel,
e. Pembuktian Hipotesis
    Kecakapan menelaah dan membahas data, kecakapan menghubung – hubungkan dan menghitung,      serta ketrampilan mengambil keputusan dan kesimpulan,
f. Menentukan Pilihan Penyelesaiaan
   Kecakapan membuat alternatif penyelesaiaan, kecakapan menilai pilihan dengan memperhitungkan     akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan.

4. Kelebihan Model Pembelajaran Problem Solving
a. Melatih siswa untuk berpikir dan bertindak kreatif,
b. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis,
c. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan terhadap suatu masalah,
d. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan,
e. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan suatu masalah yang           dihadapi dengan tepat,
f. Mampu mencari berbagai jalan keluar dari suatu kesulitan yang dihadapi,
g. Belajar menganalisis suatu masalah dari berbagai aspek,
h. Mendidik siswa untuk percaya diri.

5. Kelemahan Model Pembelajaran Problem Solving
a. Memakan banyak waktu lama dalam penerapannya,
b. Melibatkan banyak orang,
c. Tidak semua materi pelajaran mengandung masalah,
d. Memerlukan perencaan yang teratur dan matang,
e. Tidak efektif jika terdapat beberapa siswa yang pasif.





Minggu, 21 April 2019


Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Open – Ended
1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Open – Ended
Pendekatan Open-ended merupakan salah satu upaya inovasi pendidikan matematika yang pertama kali dilakukan oleh para ahli pendidikan matematika Jepang. Pendekatan ini lahir sekitar duapuluh tahun yang lalu dari hasil penelitian yang dilakukan Shigeru Shimada, Toshio Sawada, Yoshiko Yashimoto, dan Kenichi Shibuya (Nohda, 2000). Munculnya pendekatan ini sebagai reaksi atas pendidikan matematika sekolah saat itu yang aktifitas kelasnya disebut dengan “issei jugyow” (frontal teaching); guru menjelaskan konsep baru di depan kelas kepada para siswa, kemudian memberikan contoh untuk penyelesaian beberapa soal.
Menurut Shimada & Becker (1997) munculnya pendekatan open-ended berawal dari pandangan bagaimana menilai kemampuan siswa secara objektif kemampuan berfikir tingkat tinggi matematika. Seperti diketahui bahwa dalam pembelajaran matematika, rangkaian pengetahuan, keterampilan, konsep-konsep, prinsip-prinsip atau aturan-aturan biasanya diberikan kepada siswa dalam langkah sistematis. Tentu saja rangkaian tersebut tidak diajarkan secara langsung terpisah-pisah atau masing-masing, namun harus disadari sebagai rangkaian yang terintegrasi dengan kemampuan dan sikap setiap siswa. Dengan demikian akan terbentuk suatu keteraturan atau pengorganisasian intelektual yang optimal.
Problem open-ended merupakan problem yang diformulasikan memiliki multi jawaban yang benar. Problem ini disebut juga problem tak lengkap atau problem terbuka. Hancock (Suhartati, 2007:3) menyatakan bahwa masalah open-ended adalah soal yang memiliki lebih dari satu selesaian yang benar. Selain itu masalah open-ended juga mengarah siswa untuk menggunakan keragaman cara atau metode penyelesaiannya sehingga sampai pada suatu jawaban yang diinginkan.
Menurut Sawada dalam Maqsudah (2003:18-21) ciri penting dari masalah open-ended adalah terjadinya keleluasaan siswa untuk memakai sejumlah metode dan segala kemungkinan yang dianggap paling sesuai untuk menyelesaikan masalah. Artinya pertanyaan open-ended diarahkan untuk mengiring tumbuhnya pemahaman atas masalah yang diajukan guru. “Adapun bentuk-bentuk soal yang dapat diberikan melalui pendekatan open-ended terdiri dari tiga bentuk, yaitu :
a. Soal untuk mencari hubungan
b. Soal mengklasifikasikan
c. Soal mengukur

Becker dan Shimada mengemukakan bahwa pendekatan Open-Ended yang dilakukan terdiri dari dua periode :
a. Periode Pertama
·         Secara klasikal siswa memperhatikan soal terbuka yang di ungkapkan oleh guru.
·         Kemudian setiap siswa menuliskan ide masing-masing dalam lembar yang telah disediakan.
·         Setelah selesai menuliskan ide, siswa mengumpulkan LKS.
·         Setelah siswa bekerja secara kelompok untuk mendiskusikan hasil/jawaban dari persoalan yang           diajukan oleh guru.
b. Periode Kedua
Siswa mempresentasikan hasil pekerjaan kelompok.

2. Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Open – Ended
Tujuan pembelajaran dengan pendekatan open – ended menurut Zaenal Arifin (2009) adalah membantu siswa dalam mengembangkan kreativitas dan pola pikir matematis melalui kegiatan problem solving (pemecahan masalah) secara berkesinambungan (simultan). Kreativitas dan pola pikir matematis ini harus dikembangkan dengan memperhatikan kemampuan berpikir setiap siswa. Aktivitas pembelajaran yang memberikan peluang bagi siswa untuk mengemukakan ide-ide atau gagasan nya secara bebas akan memacu peningkatan kemampuan berpikir yang lebih tinggi (High Order Thinking).

3. Langkah – Langkah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Open – Ended
Sintaks dan Aktivitas Siswa dan Guru pada Model Pembelajaran Open Ended
Secara singkat sintaks dari model pembelajaran Open-Ended adalah sebagai berikut :
a. Orientasi, yaitu bertujuan untuk memotivasi siswa
b. Pembekalan atau penyajian soal terbuka (Open – Ended)
c. Pengerjaan soal Open – Ended secara individual
d. Diskusi kelompok tentang soal Open – Ended
e. Presentasi hasil diskusi kelompok
f. Penutup, yang berisi kesimpulan atau ringkasan oleh guru bersama siswa tentang konsep atau ide       yang terkandung dalam soal Open – Ended yang diajukan.

Adapun penjelasan dan alasan mengapa sintaks model pembelajaran Open-Ended seperti yang tersebut di atas adalah sebagai berikut :
a. Orientasi. Agar siswa mempelajari suatu materi (konsep) secara bermakna, pembelajaran di awali       dengan penyampaian tujuan pembelajaran dan pemberian motivasi kepada siswa berupa soal yang       berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
b. Pembekalan atau penyajian soal terbuka (Open-Ended). Pada fase ini, guru memberikan                     penjelasan umum tentang materi yang akan dipelajari siswa, agar pada fase berikutnya siswa tidak     dalam keadaan kosong. Setelah itu guru memberikan persoalan-persoalan yang bersifat terbuka           dan mengarah pada penemuan atau pengkonstruksian ide, konsep.
c. Pengerjaan soal Open-Ended secara individual. Setelah guru mengajukan soal terbuka, siswa             diminta menyelesaikan soal secara individu. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pekembangan           tingkat kreativitas siswa secara individu akibat pembekalan yang diberikan kepada siswa.
d. Diskusi kelompok tentang soal Open-Ended. Pada fase ini, siswa diminta bekerja secara kelompok     untuk mendiskusikan penyelesaian dari soal terbuka yang telah dikerjakan secara individu. Melalui     diskusi kelompok, ketika siswa melihat temuan yang diperoleh atau cara yang digunakan siswa           lain, siswa tersebut akan membandingkan, menguji dan memodifikasi, sehingga ide mereka yang       sudah ada akan berkembang.
e.Presentasi hasil diskusi kelompok. Pada fase ini, beberapa atau semua kelompok                                   mempresentasikan  hasil kerja kelompok mereka. Tujuan dari fase ini adalah untuk melatih siswa       menaympaikan ide atau gagasan di muka umum, seperti kompetensi yang dituntutkan pada siswa,       yaitu siswa mneggunakan bahasa untuk memahami, mengembangkan dan mengkomunikasikan           gagasan dan informasi, serta untuk berinteraksi dengan orang lain.
f. Penutup. Pada fase terakhir ini, siswa bersama guru menyimpulkan atau membuat ringkasan               singkat tentang konsep atau ide-ide yang terdapat dalam persoalan yang diajukan. Karena cara             penyelesaian yang diajukan bervariasi, hal itu akan menyebabkan siswa yang mempunyai                   kemampuan lebih tidak yakin akan hasil yang dicapai, lebih-lebih bagi siswa yang berkemampuan     kurang. Untuk itu diperlukan bimbingan guru untuk menyimpulkan konsep atau ide-ide yang               terdapat dalam soal yang diajukan.

4. Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Open – Ended
Suherman (2001:121) menyebutkan beberapa kelebihan berkenaan dengan pemberian soal open-ended dalam pembelajaran matematika adalah :
a. Siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan idenya.
b. Siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan            matematika secara komprehensif. 
c. Siswa dengan kemampuan matematika rendah dapat merespon permasalahan dengan cara mereka       sendiri. 
d.Siswa dengan cara intrinsik termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan.
e. Siswa memiliki pengalaman banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan. 

5. Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Open – Ended
Suherman (2001:121) juga menyebutkan beberapa kekurangan berkenaan dengan pemberian soal open-ended dalam pembelajaran matematika, yaitu :
a. Menyiapkan dan membuat masalah matematika yang bermakna bagi siswa bukanlah pekerjaan           mudah. 
b. Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami siswa sangat sulit sehingga banyak siswa      yang mengalami kesulitan dalam merespon permasalahan yang diberikan. 
c. Siswa dengan kemampuan tinggi bisa ragu dan mencemaskan jawaban mereka. 
d. Mungkin ada sebagian siswa yang merasa bahwa kegiatan belajar mereka tidak menyenangkan            karena kesulitan yang mereka hadapi.

Untuk mengatasi kelemahan - kelemahan tersebut, dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
a. Untuk mengatasi kesulitan menyiapkan soal Open-Ended yang bermakna bagi siswa, dilakukan          kajian terhadap beberapa literatur dan uji coba beberapa kali.
b. Untuk mengatasi rasa khawatir dan kecemasan siswa, pada model pembelajaran Open-Ended              terdapat fase pembekalan, diskusi kelompok dan presentasi hasil kelompok. Dengan adanya fase        pembekalan diharapkan siswa dalam menghadapi soal Open-Ended yang diberikan tidak dalam          keadaan “kosong”. Pada fase diskusi kelompok dan presentasi hasil diskusi kelompok siswa dapat      membandingkan antara jawaban yang dia peroleh dengan jawaban teman lain, sehingga siswa              akan merasa mantap dengan jawabannya. Selain itu bisa juga dengan mengerjakan LAS (Lembar        Aktivitas Siswa).

Sabtu, 13 April 2019

2. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
A.  Pengertian dan Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Menurut Rusman  (Rusman, 2012) arti Jigsaw dalam bahasa inggris adalah gergaji ukir dan ada juga yang menyebutkan dengan istilah puzzle yaitu sebuah teka-teki menyusun potongan gambar. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji (zigzag), yaitu siswa melakukan suatu kegiatan belajar dengan cara bekerjasama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama. Berdasarkan pengertian di atas bahwa model pembelajaran Jigsaw merupakan model belajar kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Dalam pembelajaran model Jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat, dan mengelola informasi yang dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi, anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari, dan dapat menyampaikan kepada kelompoknya. Pembelajaran model Jigsaw pada hakikatnya merupakan model pembelajaran kooperatif yang berpusat pada siswa. Siswa mempunyai peran dan tanggung jawab besar dalam pembelajaran. Tujuan model Jigsaw ini adalah mengembangkan kerja tim, keterampilan belajar kooperatif dan penguasaan pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh siswa apabila siswa mempelajari materi secara individual. Dalam model Jigsaw ini, siswa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok awal dan kelompok ahli. Setiap siswa yang ada dalam kelompok awal mengkhususkan diri pada satu bagian dari sebuah unit pembelajaran. Siswa dalam kelompok awal ini kemudian dibagi lagi untuk masuk ke dalam kelompok ahli untuk mendiskusikan materi yang berbeda. Siswa kemudian kembali ke kelompok awal untuk mendiskusikan materi hasil kelompok ahli pada siswa kelompok awal.

B.  Langkah – Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Dalam konsep ini semua siswa harus bisa mendapatkan kesempatan dalam proses belajar supaya semua pemikiran siswa dapat diketahui. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam pembelajaran dengan menggunakan model Jigsaw (Rusman, 2012:218) adalah sebagai berikut:
a.     Siswa dikelompokkan dengan anggota + 4 orang
b.    Tiap orang dalam tim diberi bagian materi dan tugas yang berbeda
c. Anggota dari tim yang berbeda dengan penugasan yang sama membentuk  kelompok baru (kelompok ahli)
d. Setelah kelompok ahli berdiskusi, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang subbab yang mereka kuasai
e. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
f. Pembahasan dan guru memberi evaluasi
g. Penutup
Alur proses pembuatan kelompok ahli dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat diilustrasikan sebagaimana gambar berikut:
Gambar 1: Ilustrasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Berdasarkan Gambar 1 di atas dapat dijelaskan bahwa dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam pengelompokannya siswa di kelompokkan menjadi kelompok asal, kemudian setiap kelompok diberikan topik yang berbeda untuk dipelajari. Siswa dari kelompok asal dengan topik yang sama dipertemukan dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut. Para ahli kemudian kembali ke kelompok asal mereka masing-masing dan mengambil giliran untuk mengajari anggota kelompoknya tentang topik mereka.
Selain itu ada beberapa fase yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw seperti pendapat Stahl dan Aronson, Elliot (dalam Anita Lie, 2003:91) yang membagi menjadi 7 fase yaitu:
a.  Fase 1: Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada   pembelajaran tersebut. Dan memotifasi siswa untuk belajar.
b.      Fase 2: Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jelas menyuguhkan berbagai fakta, pengalaman, fenomena fisis yang berkaitan langsung dengan materi.
c.       Fase 3: Kelompok Asal atau Base Group
Siswa dikelompokkan menjadi kelompok asal dengan anggota 5 sampai 6 orang dengan kemampuan akademik yang heterogen. Setiap anggota kelompok diberikan sub pokok bahasan/topik yang berbeda untuk mereka pelajari.

d.      Fase 4: Kelompok Ahli atau Expert Group
Siswa yang mendapat topik yang sama berdiskusi dalam kelompok ahli.
e.       Fase 5: Tim ahli kembali ke kelompok asal
Siswa kembali ke kelompok asal untuk menjelaskan apa yang mereka dapatkan dalam kelompok ahli.\
f.       Fase 6: Evaluasi
Semua siswa diberikan tes meliputi semua topik dari materi yang telah di diskusikan.
g.      Fase 7: Memberikan Penghargaan
Guru memberikan penghargaan baik secara individual maupun kelompok.
Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran teknik Jigsaw menurut Anita Lie (2004:68-69), yaitu:
  1.  Pengajar membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi empat bagian.
  2. Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari ini. Pengajar bisa menulis topik di papan tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan siswa agar lebih siap mengahadapi bahan pelajaran baru.
  3. Siswa dibagi dalam kelompok berempat.
  4. Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama,sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kedua. Demikian seterusnya.
  5. Siswa disuruh membaca atau mengerjakan bagian mereka masing-masing.
  6. Setelah selesai, siswa saling berbagi mengenai bagian yang dibaca atau dikerjakan mereka masing-masing. Dalam kegiatan ini siswa dapat saling melengkapi dan berinteraksi antara yang satu dengan lainnya.
  7. Khusus untuk kegiatan membaca, pengajar membagi bagian cerita yang belum terbaca kepada masing – masing siswa. Siswa membaca bagian tersebut.
  8. Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau seluruh kelas.
  9.  Jika tugas yang dikerjakan cukup sulit, siswa bisa membentuk kelompok para ahli (kelompoknya). Siswa berkumpul dengan siswa lain yang mendapatkan bagian yang sama dari kelompok lain. Mereka bekerjasama mempelajari atau mengerjakan bagian tersebut. Kemudian masing – masing siswa kembali ke kelompoknya sendiri dan membagikan apa yang telah dipelajarinya kepada rekan – rekan dalam kelompoknya. 
 C. Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Menurut Anita Lie (2003:84) Dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah tidaklah selalu berjalan dengan mulus meskipun rencana telah dirancang sedemikian rupa. Hal-hal yang dapat menghambat proses pembelajaran terutama dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Kurangnya pemahaman guru mengenai penerapan pembelajaran pembelajaran kooperatif.
b. Jumlah siswa yang terlalu banyak yang mengakibatkan perhatian guru terhadap proses                        pembelajaran relatif kecil sehingga yang hanya segelintir orang yang menguasai arena kelas,                yang lain hanya sebagai penonton.
c. Kurangnya sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran pembelajaran                                kooperatif.
d. Kurangnya buku sumber sebagai media pembelajaran.
e.Terbatasnya pengetahuan siswa akan sistem teknologi dan informasi yang dapat                                   mendukung  proses pembelajaran.
Keunggulan Menurut Anita Lie (2003:85) pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Meningkatkan bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.
  1. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok ahli dan kelompok asal. Kelompok asal adalah kelompok awal siswa terdiri dari berapa anggota kelompok ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang. Guru harus terampil dan mengetahui latar belakang siswa agar terciptanya suasana yang baik bagi setiap angota kelompok. Sedangkan kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok lain (kelompok asal) yang ditugaskan untuk mendalami topik tertentu untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.
  2.   Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut. Di sini, peran guru adalah memfasilitasi dan memotivasi para anggota kelompok ahli agar mudah untuk memahami materi yang diberikan. Setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli. Para kelompok ahli harus mampu untuk membagi pengetahuan yang di dapatkan saat melakukan diskusi di kelompok ahli, sehingga pengetahuan tersebut diterima oleh setiap anggota pada kelompok asal. Kunci tipe Jigsaw ini adalah interdependence setiap siswa terhadap anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan. Artinya para siswa harus memiliki tanggung jawab dan kerja sama yang positif dan saling ketergantungan untuk mendapatkan informasi dan memecahkan masalah yang diberikan. 

Menurut Isjoni (2011-18), kelemahan pembelajaran kooperatif bersumber pada dua faktor, yaitu faktor dari dalam( intern ) dan faktor dari luar (eksternal).  Faktor dari dalam yaitu sebagai berikut:
a. Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang,disamping itu memerlukan lebih                    banyak tenaga,pemikiran dan waktu.
b. Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat                 dan  biaya yang cukup memadai. 
c. Selama kegiatan berdiskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan                 yang sedang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah                     ditentukan.
d. Saat diskusi kelas, terkadang didominasi oleh seseorang, hal ini mengakibatkan siswa yang                 lain  menjadi pasif.